TULISAN GURU

Awal Deritaku (part 22)

Siti Nurbaya AZ

Samar – samar aku mendengar suara yang memanggil namaku sambil silih berganti dengan menyebutkan asma Allah ditelingaku. Perlahan aku membuka mataku, memandang wajah yang ku kenal.

“ Mak Long, Ibu dimana?”

Aku berusaha bangun dari baringku, tapi ditahan oleh Mak Long.

“ Jangan bangun dulu, syukurlah Cahaya sudah sadar.”

” Ngah, ambilkan air minum untuk Cahaya.” Suara Mak Long menyuruh Mak Ngah mengambil air. Mak Long mengusap kepalaku sambil menyebut Asma Allah dan sekali – sekali berkata kepadaku “ sabar ya sayang.” Mak Ngah menyodorkan air putih kepada Mak Long yang langsung di sodorkan kepadaku,

“ Bisa bangun sendiri?” walaupun Mak Long mengatakan itu, tetap saja Mak Long membantu aku untuk duduk supaya bisa minum air yang disodorkan kepadaku.

Setelah meminum air yang disodorkan Mak Long, aku menanyakan keadaan Ibu. “ Mak Cahaya sudah sadar, sekarang ada di kamarnya.” Mak Long memandangku meyakinkan diriku melalui tatapan bahwa Ibu tidak apa – apa.

“ Cahaya yang sabar ya, semua sudah menjadi ketentuan Allah. Barusan Mak Long menerima telepon dari pihak Laki – laki mengatakan rombongan yang akan masuk meminang mengalami kecelakan sewaktu menuju rumah pihak perempuan.” Alhamdulillah Indra masih hidup tapi masih diruang ICU, ibu dan pamannya meninggal di tempat. Jika memungkinkan mereka meminta Cahaya kerumah sakit. “ aku mendengarkan semua perkataan Mak Long dengan hati yang bercampur aduk, antara senang dan sedih sekaligus.

Aku berusaha berdiri, menanyakan kepada Mak Long kemana adikku Azmi dan Azhar.

“ Azmi, Azhar, Ngah panggilkan Azmi atau Azhar? “ suara Mak Long membahana di kamarku.

“ Azmi kemari, Mak Long panggil.” Aku mendengar suara Mak Ngah memanggil Azmi. Langkah tergesa menghampiri kamarku, Azmi menampakkan wajahnya ke kamarku.

“ Iya Mak Long ada apa?

“ Ni kakak engkau yang manggil.” Kata Mak Long

“ Ye, ada apa kak?”

“ Mi, Ibu tidak apa – apa?” tolong antar kakak ke rumah sakit pintaku kepada Azmi adikku.

“ Ibu sudah sadar, ya Ibu juga menyuruh Azmi mengantar kakak ke rumah sakit.”

Aku berusaha bangun dibantu Mak Long,

“ Yuk Mi, kita ke rumah sakit,” pintaku kepada Azmi. Mak Long masih memapah diriku sampai menuju mobil, membukakan pintu untuk diriku.

“ Mak Long Ikut.” Pinta Mak Long

“ Iya Mak Long ikut aje, biar bisa mengawasi kakak.” Kata Azmi. Kami bertiga akhirnya menuju rumah sakit. Sepanjang jalan, Mak Long selalu memelukku dan memberikan kekuatan kepadaku.

“ Mudah – mudahan Indra tidak apa – apa, berdoa Cahaya semoga Indra selamat. Menetes air mataku mendengar ucapan Mak Long. Dalam hati aku memanjatkan doa semoga Indra tidak apa – apa, menetes lagi air mataku. Sekali – sekali Mak Long menghapus air mataku jika melihat banyak air mata yang keluar.(bersambung)

https://sitinurbayaaz.gurusiana.id/article/2020/11/awal-deritaku-part-22-389448?fbclid=IwAR28R2KrXxxF8Xal2w3oFnIcDmd0v8_LUBf_qx2vEeEulMq-gf0Se9ogFmM&bima_access_status=not-logged#.X687FgP6u44.facebook

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close